Efek bullying yang membekas

Tepat pukul 04.00 pagi, aku terbangun dari tidur yang semalam ku lalui dialam mimpi.”kala subuh itu akupun langsung bergegas mengambil air wudhu, kemudian sholat subuh. Setelah sholah subuh aku pun bersih-bersih rumah membantu ibu ku. Setelah selesai bersih-bersih rumah aku pun bergegas mandi.

Tepat pukul 05.55 Aku pun bergegas berangkat sekolah.Agar tidak terlambat nantinya,Karena aku pergi kesekolah dengan jalan kaki.

Aku pun mulai berjalan menyelusuri sawah, serta menyelusuri sungai demi menuntut ilmu. 15 menit kemudian aku pun sampai di sekolah. Dengan sedikit keringat serta sepatu yang sedikit kotor. (Tiba-tiba ada salah satu temanku bernama amel yang datang menghampiri aku).

“He Reni!kamu berangkat sekolah ko jalan kaki!” Bapak mu kemana ko ngak nganterin”.(Tiba-tiba ada seorang teman laki-laki ku yang bernama Reno datang sambil mengejek). “He dia, itu ngak punya bapak ! ” Sambil tersenyum sinis dan nada mengejek. Amel pun bertanya kepada Reno. “Emang bapak dia kemana ren?” Reno pun menjawab, “bapak dia gila, terus Reni itu seorang pencuri durian dikebun milik tetangganya”.”amel:kamu tau semua itu dari mana Reno, aku tau dari pamanya, dia bilang gitu ke aku”.seketika itupun kelas menjadi heboh dan ramai.serta,teman-teman yang lain pun saling mengejek aku. Padahal kenyataannya berbanding terbalik dengan fakta sebenarnya. Yang mencuri itu paman ku bukan aku.

Saat itu pun aku langsung berlari kekamar mandi sambil nangis sejadi-jadinya. Dalam hati,aku bertanya “Tuhan apakah aku terlahir hanya untuk bahan bully an teman-teman ku, apakah aku hanya terlahir sebagai anak orang yang mempunyai gangguan jiwa” Tuhan!”.aku lumayan lama dikamar mandi sekitar 20 menitan aku kembali ke kelas dan aku pun masih diejek.

Tak terasa bel pulang sekolah pun berbunyi, aku pun lega rasanya karna aku telah terbebas dari semua ejekan yang dilontarkan oleh teman-temanku.

Kala itu aku pun berjalan menyusuri sungai, sawah serta parit kecil sambil menangis. Aku masih tidak abis fikir setega itu paman ku fitnah serta bilang ke teman-temanku kalau aku anak dari seorang ayah yang mempunyai gangguan jiwa. Tak terasa aku berjalan dengan kesedihanku yang saat itu terasa begitu berat untuk kujalani, aku pun sampai rumah.

Selepas pulang sekolah, aku pun masuk kamar sambil meratapi hidupku apa salahku, sampai harus menanggung beban ejekan seperih ini. Sampai-sampai muncul pikiran itu bunuh diri agar tidak diejek lagi. Saat itu pun aku stress, bingung, malu serta sedih sambil menyalahkan kehidupan.

Setelah kejadian itupun aku menjadi seseorang yang pendiam, tak pernah keluar rumah, dan selalu cuek kepada siapa pun, walaupun orang tersebut menyapa ku.

#semoga cerita diatas dapat memberi pelajaran kepada siapa pun agar tidak melakukan bullying,. Karena efek bullying sangat negative. Dan saya pribadi menyarankan jangan terlalu percaya dengan omongan orang yang belum tentu kebenarannya serta jangan mudah menghakimi orang tanpa ada bukti kalau orang tersebut bersalah. Semoga bermanfaat#serta stop bullying#terimakasih

Perjalanan hidupku

Aku Dilahirkan dari keluarga yang berantakan, ayahku meninggalkan ku dan sejak kecil aku diasuh oleh nenek dan kakek ku karena ibu ku harus pergi bekerja cari uang, untuk menghidupi ku serta kakak ku.

Aku anak kedua dari dua bersaudara. Kami berdua adalah saudara yang telah dibesarkan dalam lingkup keluarga yang hancur, tidak hanya hancur tapi keluarga broken home, ayahku pergi meninggalkan aku serta kakak dan ibu karena ada wanita lain.

Singkat cerita Aku adalah gadis yang sejak kecil udah rusak. Rusak dalam artian gagal menjaga kehormatan ku. Karna kurangnya kasih sayang serta perhatian.aku telah merusak masa depanku sendiri demi mencari kasih sayang dan perhatian.

Aku tak tau harus sampai kapan aku menyendiri, berdiam diri, putus asa, serta meratapi nasib yang begitu hancur yang telah menerpa hidupku.

Aku ingin hidup normal, seperti gadis-gadis pada umumnya. Tapi aku ngak bisa,.karna aku sudah merusak itu sebelum waktunya tibaπŸ˜”

Semoga cerita ini dapat memberi pelajaran kepada seluruh orang tua agar memperhatikan anaknya agar tidak salah pergaulan walaupun keluarganya telah hancur.